The Extreme Journey: Dua Roda Bergoyang (7)

Suhu hangat Sumbawa menyapa kami sejak jam 6 pagi. Tidur malam ini terasa sangat rileks dan nyaman sekali, walaupun beralaskan lantai ruang tunggu pelabuhan Pototano. Selagi kami bersiap-siap pagi, Mr. Eelco datang ke ‘markas’ kami membawa kabar ‘gembira’, yaitu tantangan akan dimulai pukul 8 pagi dan seluruh tim diminta dipersiapkan fisik dan mentalnya untuk menghadapi tantangan yang agak berat itu.

Berhubung masih ada waktu cukup banyak, kami memesan nasi  dan telur dadar serta seplastik kecap manis untuk sarapan+ makan siang nanti. Lalu kami nongkrong di luar ruang tunggu sembari mengambil ‘kebutuhan kamera’ lagi dengan berlari-lari di antara truk-truk yang sedang mengantri masuk ke dermaga. Duuh ngartis dah diliatin bapak-bapak supir truk :’)

Akhirnya jam 9 kami diajak berjalan ke arah luar pelabuhan dan di sebuah lapangan besar, telah menunggu sembilan mountain bike beserta perlengkapannya *musik horor*

image

Sepeda: Alat “Penyiksa” Regional 3 #TheExtremeJourney :p (Credit: Caldera Indonesia)

Sebelum kami mendekat ke sepeda masing-masing, Mr. Eelco memberikan briefing singkat berdurasi setengah jam mengenai perangkat sepeda dan cara penanganan kondisi darurat. Apa saja yang mungkin terjadi selama perjalanan bersepeda touring? Buka saja http://b2w-indonesia.or.id/bacanote/5_hal_buruk_ketika_gowes_offroad. Setelah briefing, kami mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa selama bersepeda karena carrier dan daypack akan dibawa oleh mobil panitia.

image

Satu-satunya foto lengkap personil tim hijau dengan di tantangan sepeda ini! (Credit: Caldera Indonesia)

Camera! Ready! Action! Dan amplop merah The Extreme Journey kembali dibagikan.

“Kami menunggu Anda sampai di Batu Tering jam 12 siang esok hari. Poin bonus ada di desa Bungin. Tim Anda hanya diperbolehkan bersepeda hingga jam 6 sore, dan menginaplah di rumah warga sekitar.”

image

START! (Credit: Caldera Indonesia)

Aba-aba mulai diberikan oleh Bang Arry, dan semua peserta meluncur kencang di atas jalan bebatuan, meninggalkan saya sendirian yang tertatih menaiki sepeda. Bang Eko menoleh ke belakang dan bingung melihat saya malah menuntun sepeda. Oke. Sekarang saya mengaku bahwa saya tidak bisa naik sepeda dengan lancar. Maafkan saya tim hijau! :’(

image

Ini saya yang waktu itu harus dibantuin Bang Eko (setiap kali) start bersepeda (Credit: Caldera Indonesia)

Dengan bantuan Bang Eko dan Bang Ferdi dari tim biru, saya akhirnya bisa duduk di atas dua roda tersebut  dan meluncur perlahan di tepian jalan. Kesulitan saya yang lainnya saat itu adalah kaki saya yang tidak sampai ke tanah dan jarak stang yang terlalu jauh untuk tangan saya.  Setengah jam kemudian, panitia memberikan peralatan untuk menurunkan stang dan dudukan sepeda agar saya bisa bersepeda lebih nyaman. Alhamdulillah :”’)

Jalan yang mulus selayaknya jalan raya kami tempuh sekitar tiga jam. Memasuki daerah desa Bungin, jalanan tidak ada halus-halusnya sama sekali. Saking capeknya jatuh bangun luka sana sini, saya tuntun saja sepeda itu hingga gerbang masuk desa Bungin :’(

Matahari tepat di atas kepala ketika kami sampai di desa Bungin. Kondisi jalan yang berbatu dan panas yang menyengat membuat kepala berdenyut dan mata berbayang. Di desa Bungin inilah kami harus menuntaskan tugas bonus yang sangat super. Apa sih tugas bonusnya?

“Berfotolah bersama kambing yang sedang makan kertas.”

….. (menghela napas) …..

Di tengah panas yang terik tersebut kami mencari-cari kambing yang mau makan sobekan kertas dari kami. Kami berjalan semakin jauh ke dalam desa dan berharap menemukan kambing yang masih lapar. Uang sebesar dua ribu rupiah pun kami gunakan nyaris putus asanya kami. Akhirnya, di bawah sebuah kapal yang sedang dibangun, seekor ibu kambing memakan selembar uang dua ribu yang kami suapkan! Yippieeeeee!

image

Ibu kambing makan kertas :’)

image

Pose Dewi Durga yang anti-mainstream (karena Bang Eko yang kita pasang jadi face-nya Dewi Durga tim hijau hehe)

Sehabis makan siang dengan bekal nasi telur yang kami bawa di desa Bungin, kami sekarang bersepeda menuju Batu Tering! Matahari semakin ramah mendekati sore di pulau Sumbawa membuat saya semakin bersemangat! Hahahah. Sayangnya Rikki semakin lelah karena setting roda depannya yang terlalu kencang sehingga berat untuk dikayuh dari pagi (dan dia baru bilang sorenya!).

image

Tim hijau ngaso sore-sore di tengah hutan (Credit: Bang Anton)

Melewati hutan di kiri dan kanan kami, hari semakin gelap dan kami masih belum menemukan rumah penduduk yang bisa kami tumpangi. Sampai pukul 18.30 kami bersepeda mengandalkan penerangan dari lampu mobil dan truk yang mendahului kami. Setelah keluar dari hutan dan pedesaan penduduk hindu, kami menemukan sebuah warung!

Warung di desa Meno tersebut milik Pak Alvin dan istrinya. Pak Alvin adalah seorang nelayan yang bermigrasi dari pulau Sumatera. Setelah berbasa-basi, kami diizinkan untuk menginap di teras rumah beliau. Untuk makan malam, kami disuguhi ikan hasil tangkapan beliau serta membeli nasi dan mie rebus, serta membayar dengan harga yang sangat murah. Terharuuuu, kenyaaang dan senaaaang!

image

Di teras rumah Pak Alvin beserta Ibu di Desa Meno, Sumbawa :)

Pas setelah makan malam, panitia datang membawakan tools sepeda dan memberitahukan bahwa peserta boleh mulai lagi esok hari jam 05.30. Sebelum tidur, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pak Alvin dan ibu yang telah menerima kami di rumah desa Meno. Semoga keluarga Bapak diberikan kelancaran rezeki oleh Tuhan YME. Aaaamiiin :’)

P. S. Klik hestek #theextremejourney di bawah ini untuk membaca seluruh cerita kami tanpa adegan cut! :D

The Extreme Journey: Turun dari Kayangan (6)

Adzan maghrib berkumandang sehabis kami membersihkan rumah penduduk dengan kotoran sapi. Lampu-lampu desa Sade dinyalakan dan kami berkumpul di depan bale-bale besar sambil menunggu adzan magrib selesai. Suasana terasa syahdu karena kami akan meninggalkan desa Sade yang menjadi tempat bertanding pertama kami di The Extreme Journey. Berkejaran dengan waktu, pukul 18.15 kami diberikan tugas kedua di dalam amplop istimewa The Extreme Journey.

“Kami menunggu Anda turun dari kayangan paling lambat pukul 6 besok pagi. Anda tidak bisa mengikuti tantangan bila Anda terlambat menemui staf kami.”

Setelah menerima tugas, kami berpamitan dan berterima kasih kepada penduduk desa Sade yang telah menerima kami seharian ini (semoga kami bisa berkunjung lagi! :”D). Tak jauh dari luar desa Sade, kami menanyakan para penduduk letak tempat yang bernama kayangan yang ada di Lombok. Lagi-lagi jawabannya ada dua macam! Duh… :p

‘Kayangan’ yang pertama ada di sebelah timur desa Sade, terletak di perbukitan dan digunakan untuk upacara pemotongan rambut anak-anak. Sedangkan ‘kayangan’ yang satu lagi merupakan nama pelabuhan yang membawa penumpang ke Sumbawa. Secara logika, jelas tidak mungkin kami ke kayangan yang di timur karena tidak ada kendaraan sama sekali ke arah sana dan rute menjadi mundur ke belakang. Karena itu, kami memilih ke pelabuhan Kayangan yang rutenya masih dirasa oke. Hehe.

Let’s go! Sebelum ke Kayangan, kita harus lewat Mataram sekalian ambil poin bonus foto nih. Tapi, naik apa kita kesana? Jika hari gelap ternyata jarang sekali kendaraan pribadi yang lewat, apalagi angkot. Bersama tim biru, kami berjalan sekitar 2 km dan berhasil menghentikan sebuah truk pick-up berisi panen buah nangka. Harumnyaaa! :3

image

Begajulan di atas pick-up nangka bareng tim biru :D

Tak terasa 15 menit kemudian, kami diturunkan di pertigaan Sengkol untuk melanjutkan perjalanan ke arah Mataram. Setengah jam kami menunggu tetapi tidak ada kendaraan yang mau berhenti untuk kami tumpangi. Tim merah pun lewat menumpang mobil pick up yang melaju kencang sambil melambaikan tangan dengan gembira. Huh! Hahahah :P

Tiba-tiba sebuah mobil Avanza berhenti saat saya dan Mbak Winny mengacungkan jempol tanda ingin menumpang. Kami hampiri mobil dan ternyata sang Bapak bersedia mengantar jika dibayar IDR 350.000 dengan rute Sengkol- Mataram- Pelabuhan Kayangan. Demi mengejar waktu, kami deal saja dan langsung meluncur ke Mataram.

image

Tim hijau di depan Pura Meru, Mataram :D

(untung ada kameranya Bang Ferdi, kalau ga fotonya nanti gelap mutlak hehe)

Setelah mengambil poin foto bonus di Pura Meru dan kembali ke mobil, kami melihat tim merah di seberang jalan sana sedang mencari-cari Pura Meru! Dengan panik kami langsung masuk mobil agar tidak berpapasan dan buru-buru pergi ke pelabuhan Kayangan. Hahahah maafkan kami tim merah :’)

Gerbang pelabuhan Kayangan berbeda sekali dengan Padang Bai. Pelabuhan Kayangan terlihat rapi dengan lampu-lampu terang di sisi jalannya, persis seperti gerbang masuk bandara pesawat. Disana kami membeli tiket dan nasi bungkus (dua porsi untuk bertiga hehe) dan langsung naik ke ferry agar bisa cepat istirahat setelah turun dari Kayangan.

Perjalanan dua jam ditempuh dan sampailah kami di pelabuhan Pototano, Sumbawa. Demi mendapatkan skor pertama, kedua tim berlari dan bertemu dengan panitia Caldera. Tapi sayang, tim hijau menjadi yang kedua karena tim biru menyerahkan score card lebih awal daripada kami. Tak apa! :D

image

Menjelang dekil maksimal di pelabuhan Pototano, Sumbawa :P

Lelah segera menyapa dan kami mendapatkan tempat untuk ‘ngampar’ di sebelah ruang tunggu pelabuhan. Tebar sleeping bag berjajar dan segera tidur karena hari esok menanti! ;)

P.S. Klik #theextremejourney di bawah ini untuk lihat compile cerita kami ;)

The Extreme Journey: Tantangan Desa Sade! (5)

Sembari menunggu tim biru dan merah sampai ke checkpoint, kami menelusuri desa Sade yang ternyata sedang mempersiapkan sebuah perayaan. Berbakul-bakul nasi dan kacang-kacangan rebus memenuhi bale-bale depan rumah adat. Usut punya usut, ternyata ini adalah persiapan upacara merayakan kelahiran seorang anak. Esok hari upacara akan dilakukan di makam leluhur penduduk desa Sade. Berkat perayaan ini, tim hijau mendapatkan empat piring nasi gratis untuk makan siang! Terima kasih Ibu! :’)

image

Ibu-ibu super baik hati dari desa Sade, Lombok! <3

Pukul 11.00 WITA kami selesai makan siang, namun tim merah dan biru tak kunjung tiba, sedangkan misi pertama dimulai jika ketiga tim bertanding (demi kebutuhan kamera hehe). Kami pun melakukan kegiatan TIBA-TIBA, yaitu tidur-bangun-tidur-bangun hahahah. Akhirnya mereka pun datang pukul 15.00! Yaaaayyyyyyyy!

Musik khas Bali langsung dimainkan dan demonstasi tantangan pertama dimulai. Apakah tantangan itu? Eng ing eng! Peresean! Peresean adalah seni bela diri yang menggunakan rotan sebagai senjata dan tameng yang terbuat dari kulit kerbau (Sumber: http://www.indonesia-lombok.de/peresean_en.php). Tantangan pertama The Extreme Journey ini hanya dimainkan oleh dua pria setiap kelompok dan harus bertahan selama tiga ronde. Peserta yang memasukkan serangan ke badan lawan mendapatkan tambahan poin, sedangkan serangan sebaliknya akan dikurangi poin timnya.

Tim hijau menjadi tim pembuka pertandingan dengan Bang Eko sebagai penantang pertama. Kakinya lincah meloncat sambil menyabetkan rotannya. Beberapa kali sabetan Bang Eko mengenai tubuh petarung tradisional, tetapi dari mata saya sih tidak ada sabetan yang masuk ke Bang Eko. Bravo! Setelah itu, pertandingan Rikki dimulai. Ronde pertama Rikki mengangkat tamengnya terlalu tinggi sehingga sabetan ujung rotan pun memakan punggung sampingnya. Aduh! Untung saja dia memperbaiki posturnya hingga bisa bertahan dan memenangkan pertandingannya. Super bravo! :D

image

image

Bang Eko (atas) dan Rikki (bawah) sedang bertarung Peresean. Go go go!

Berbekal memar-memar setelah pertarungan, tantangan di desa Sade berlanjut! Kali ini kami ditantang untuk membersihkan lantai rumah penduduk dengan cara tradisional suku Sasak, yaitu menggunakan kotoran kerbau. Je-reng-jeng-jeeng! Selain menghilangkan debu, kotoran kerbau juga berkhasiat mengusir nyamuk dan menghangatkan lantai rumah suku Sasak ini. Rahasianya adalah kotoran kerbau yang dipakai harus yang masih hangat. Lalu dicampur dengan air dan digosok ke seluruh permukaan lantai sampai benar-benar meresap. Sedap!

image

Gosok terus lantainya pakai kotoran kerbau! :p (Credit: Caldera Indonesia)

P.S. Klik #theextremejourney di bawah ini untuk lihat compile cerita kami ;)

The Extreme Journey: Lombok! (4)

Wangi laut menyambut hidung kami saat terbangun jam 6 pagi. Linglung menghampiri dan akhirnya teringat kami berada di atas kapal ferry yang menuju pulau Lombok. Setelah mengulet-ulet dan berjalan sempoyongan ke toilet, tim hijau pun segar dan siap bertanding hari ini! Kami memutuskan untuk mengikuti kata Rikki dan menyusun rencana perjalanan ke desa Sade, yaitu dari pelabuhan kami harus ke terminal Mandalika lalu ke Praya untuk menyambung ke desa Sade.

Pukul 7 kapal ferry merapat dan kami berjalan cepat keluar dari Pelabuhan Lembar. Sekitar 10 menit kemudian, kami melihat tim merah sedang bernegosiasi dengan mobil travel. Akhirnya tim kami sepakat untuk share mobil travel (seharga IDR 15.000 per orang) dan bersama-sama menuju terminal Mandalika. Suasana di dalam mobil sangat aneh karena masing-masing tim berbisik-bisik agar rencananya tidak bocor hahahah. Kami semua masih dalam suasana berkelompok, jadi rasanya lucu sekali kalau diingat-ingat. Nyaris saja tim hijau tidak mengambil poin bonus karena tidak mau tim merah tahu rencana kami :’)

image

Ini dia poin bonusnya: berfoto depan masjid di persimpangan, yaitu Masjid Mendagi (yang sebenarnya hanya monumen berbentuk masjid) hehe

Sesampainya di terminal Mandalika setelah satu jam perjalanan, kami langsung berpisah jalan karena tim merah menuju desa Bayan. Suasana di terminal Mandalika ramai sekali karena banyak yang menawarkan sewa mobil, tetapi tarif yang ditawarkan sangat keterlaluan, sehingga kami langsung berjalan agak jauh dan mendapatkan angkot ke arah Praya.

P. S. Angkutan umum ke Praya bentuknya seperti mobil carry, seharga IDR 10.000 per orang

Selama perjalanan ke Praya kami bertanya-tanya kepada penumpang dan bantuan teman asal Lombok dan Sumbawa di media sosial. Lalu? Semua orang menjawab: Desa Bayan. Rikki menjadi pucat. Bang Eko menatap nanar keluar jendela. Saya kelaparan. Hahahah. Waktu menunjukkan pukul sembilan dan sangat tidak mungkin kami sampai tepat waktu bila berganti haluan. Sekedar informasi, bisa dilihat peta perjalanan kami menuju desa Sade, dan bisa dibayangkan bila kami putar balik ke arah desa Bayan. Uang pun tidak akan cukup untuk sampai kesana :’(

image

Desa Sade terletak di selatan Lombok, sedangkan desa Bayan di utara Lombok (dekat Gunung Rinjani)

Pengambilan keputusan di angkot pun dilakukan dengan suasana putus asa. “Lebih baik kita sampai Sade dulu lalu tahu kita salah, daripada putar balik di tengah jalan dan ternyata Bayan adalah jawaban yang salah.” Kalimat saya itu merupakan modifikasi dari “It’s better to regret your actions, instead of regretting because you didn’t do anything” Hahahah ngasal berat itu ndro! Tetapi semuanya mengangguk setuju dan Bang Ibe pun (cameraperson juga tidak tahu check point berikutnya dimana) menambah keyakinan kita baiknya ke Sade.

image

Tiga pria kebingungan di angkot Praya- Sade :p

Di Praya kami berganti angkot ke arah desa Sade dengan bantuan bapak angkot pertama (terima kasih Bapak! Berkat Bapak juga kita dapat angkot Praya- Sade seharga IDR 10.000 per orang). Kali ini angkotnya berbentuk seperti bemo yang ada di Jakarta, yaitu dua baris tempat duduk menyamping dengan bagian belakang terbuka. Setengah jam kami berbengong-bengong ria di dalam angkot, tiba-tiba Bang Eko berteriak “Itu ada bendera The Extreme Journey!” Rikki turun dari angkot dan melonjak-lonjak super gembira sambil bersorak di jalanan. Di gerbang masuk desa Sade kami disambut oleh penduduk lokal (dengan cengiran gembira di wajah) dan menghampiri Bang Anton sang panitia untuk checkpoint. Pukul 9.28 menandakan kami adalah tim pertama dan satu-satunya yang mendarat di desa Sade. Yippie! :D

Hasil studi literatur yang Rikki lakukan selama menunggu tim merah dan biru di desa Sade adalah sebagai berikut:

Desa Bayan memiliki “wetu telu” yang berarti Islam masuk dalam tiga tahap, sedangkan “wektu telu” di desa Sade diartikan sebagai shalat tiga waktu dalam sehari.

Ooooo gitu toh! Ternyata perbedaan satu huruf saja bisa merubah maknanya yah :D

P.S. Klik #theextremejourney di bawah ini untuk lihat compile cerita kami ;)

The Extreme Journey: Race Start! (3)

Angin malam Nusa Dua menerpa kami yang masih bersiap-siap sebelum tanding dimulai. Rasanya ngantuk tapi tidak ingin tidur saking deg-degan menunggu journey dimulai. Pukul 12 malam di Nusa Dua, Bali, kami akhirnya dijejerkan dan berdoa bersama, aba-aba pun diberikan lalu kami berlari menuju ransel kami dan menemukan tiga amplop merah khas The Extreme Journey. Ketiga tim langsung berpencar dan meneliti amplop-amplop yang berisikan dua macam tugas serta sejumlah uang untuk perjalanan kami.

Eng ing eng! Apa sih tugas pertamanya? “Temuilah petugas kami di desa yang terkenal dengan wektu telu, yang sekarang sudah menjadi desa wisata. Datanglah sebelum jam 11 siang, atau kau tidak bisa ikut tantangan.” Tanpa membuka smartphone, Rikki langsung menjawab “Ini pasti Desa Sade di Lombok. Aku sempat baca tentang ini soalnya.”

image

Tim Hijau dan campers kita, Bang Ibe! (Credit: Caldera Indonesia)

Kita ke Lombok pagi ini, Kawan! Saat itu kami langsung search cara ke Lombok dari Nusa Dua. Setelah berkutat menyusun rute naik bus dan angkot untuk ke pelabuhan di Bali, ternyata panitia direncanakan akan mengantar kita “startpoint” yang sesungguhnya (panitia ga bilang kalau itu pelabuhan. Ra-ha-si-a.). Capek deeh hahahah sudah nyusun rute. Tapi tak apa, kami senang-senang aja dikasih tumpangan hehe. Perjalanan dari Pirates Bay Nusa Dua ke Pelabuhan Padang Bai memakan waktu satu jam, yang kami gunakan untuk tidur  dan menyimpan tenaga kami.

Sesampainya di Padang Bai, sembari ngumpulin nyawa tim hijau menghampiri pos polisi untuk menanyakan pembelian tiket dan sebagainya. Pak Polisi agaknya kaget karena Bang Eko menanyakan (baca: membombardir) Pak Polisi karena terburu-buru, dan ada Bang Ibe dengan kameranya yang mengikuti kita kemana-mana. Hehe maafin kita yah Pak! Kagetnya lagi setelah Pak Polisi memberikan informasi tentang tiket, Bang Eko langsung berlari kencang menuju konter tiket! Hahahah mau tak mau Farah dan Rikki langsung mengejar Bang Eko sambil agak kebingungan. Ternyata Bang Eko masih terbawa suasana Djarum Adventurace yang dulu diikutinya tahun 2004, dimana semua tantangan harus diselesaikan dengan cepat dan kilat dengan fisik yang kuat.

Harga tiket ferry penyeberangan dari Pelabuhan Padang Bai Bali ke Pelabuhan Lembar Lombok seharga IDR 30.000. Sekitar 4-5 jam Anda bisa duduk di kursi sambil nonton TV, tidur ngampar di bagian ferry yang kosong, atau menyewa matras yang ada di sekitar untuk perjalanan malam. Biasanya sih yang nyewa matras bule-bule :D

Di atas ferry, kami susun strategi agar sesuai dengan konsep dan ga perlu lari-lari lagi di saat yang tidak diperlukan. Yang penting otak bro selain fisik! Hehe. Sementara Bang Eko dan Rikki mencari penduduk Lombok yang bisa ditarik informasi, saya menjaga “wilayah” tim hijau dan googling tentang desa “wektu telu” tersebut. Menurut wikipedia (tidak ada sumber lain yang lebih akurat hiks), desa Sade dan desa Bayan di Lombok sama-sama menggunakan istilah telu. Kegalauan kami bertambah setelah tim biru dan tim merah memutuskan untuk pergi ke desa Bayan. Mengapa petunjuknya sangat memusingkan dan membuat kita berpisah?! Kepala pun bertambah pening akibat begadang, lalu kami putuskan saja untuk tidur hahahah. Hari terang kita lanjut lagi, Kawan! :D

P.S. Klik #theextremejourney di bawah ini untuk lihat compile cerita kami ;)

The Extreme Journey: Ini Dia Regional 3! (2)

Akhirnya 5 Juni datang juga! Setelah seabad rasanya menunggu (dan mengawasi) pertarungan teman-teman di regional 1 dan 2 yang dimulai Mei- Juni, kini giliran regional 3 yang berlaga di The Extreme Journey! Dua hari sebelumnya telah dikirimkan tiket pesawat ke Bali yaitu lokasi meeting point pertama sembilan orang peserta ini. Peserta dari Jakarta yaitu saya, Lukmanul Hakim, Ferdi, dan Winny Astriani terbang bersama menggunakan Sriwijaya Air.

Sesampainya di Denpasar, ternyata hari sudah gelap dan kami langsung dijemput oleh panitia yaitu Bang Asep. Setengah jam kemudian sampailah kami di Pirates Bay, Nusa Dua, Bali. Ternyata kami adalah rombongan peserta yang terakhir sampai disana. Maaf ya kawan kalian lama menunggu! Di Pirates Bay kami makan malam, pengambilan video profil peserta, medical check-up singkat, serta razia barang-barang di luar ketentuan. Apa saja barang-barang yang dilarang? Sebut saja makanan, uang, kartu ATM, serta powerbank yang melebihi 5800 mAh. Argh!

image

Perlengkapan yang harus dibawa peserta The Extreme Journey. Di luar list itu harus disita sementara panitia :’(

Setelah urusan-urusan di atas beres, kami dikumpulkan untuk briefing yang sepoi-sepoi dan romantis (karena di tepi pantai) yang juga menyajikan video-video kompetisi The Extreme Journey sebelumnya. Sebelum briefing Mr. Eelco agaknya terkejut melihat (badan) saya, karena beliau berkomentar “Peserta kompetisi ini beragam sekali, dari yang tinggi [menunjuk Bang Hakim] sampai extra small [menunjuk saya].” Hehe ternyata semuanya berpikiran seperti itu, apalagi mereka yang sempat melihat profil Facebook dan Twitter saya mengira saya tidak semungil ini (serta membawa tas super besar dan berat!).

Sembilan peserta di regional 3 ini dibagi menjadi tiga tim. Tim Merah X7 beranggotakan Bang Lukmanul Hakim, Gita Arifatun Nisa, dan Alid Abdul. Tim Biru X8 beranggotakan  Bang Ferdi, Mbak Winny Astriani, dan Rifqi Majid. Sedangkan tim hijau X9 beranggotakan Farah Hulliandini (saya), Bang Eko Lisyan, dan Rikki Himawan Putra. Setelah pembagian kelompok, masing-masing berkumpul dan berkenalan.

image

Berdoa sebelum kompetisi dimulai (Credit: Caldera Indonesia)

Kesan pertama saya terhadap Rikki adalah baby face banget (hehe peace Rik), sedangkan Bang Eko memancarkan aura garang (hahahah). Kesan pertama mungkin menipu, apalagi kami bertiga tipe bicara seperlunya :’D Semoga perjalanan kami selama sepuluh hari ke depan lancar jaya!

image

Ini dia tim hijau X9! Masih cerah dan segarrr :p

Oh iya, berikut link-link yang bisa teman-teman klik untuk video The Extreme Journey (https://www.youtube.com/watch?v=jDtE9Mt3GUM) dan Adventurace 2 (https://www.youtube.com/watch?v=9wA9cum-8mk) yang diselenggarakan Caldera Indonesia ;)

P.S. Klik #theextremejourney di bawah ini untuk lihat compile cerita kami ;)

The Extreme Journey: Awal dari Awal (1)

Siang yang cerah di kampus IPB Darmaga mengawali petualangan yang tak terduga bagi saya. Sarida, sahabat yang sudah empat tahun bersama mengarungi kehidupan paduan suara, bisnis, dan akademik, mengajak saya untuk mengikuti kuis The Extreme Journey dari Caldera Indonesia. Setelah kami selidiki, ternyata kuis yang diadakan di Twitter dan Facebook ini adalah tahap seleksi awal yang nantinya akan dilombakan keliling Indonesia dan Asia! Bukan jalan-jalan ya, tapi ini kompetisi! ;)

image

Poster The Extreme Journey (Credit: Caldera Indonesia)

image

Jadwal kuis beserta skornya (Credit: Caldera Indonesia)

Wangi persaingan sangat menguar karena setiap setengah jam sekali kami diharuskan menjawab kuis tepat waktu bersamaan dengan 600 orang lainnya. Setiap jam 6 pagi kami bangun dan menjawab kuis secepatnya, lalu tidur setelah jam 9 malam yang menutup pertanyaan kuis pada hari itu. Pertanyaan kuis Twitter atau Facebook berkisar budaya dan adventure di Indonesia maupun Asia, ada juga yang unik seperti “unggah foto dirimu yang sedang kayang” atau “berfotolah dengan angkutan umum yang biasa kamu tumpangi”. Selama seminggu kami bertarung untuk mendapatkan akumulasi poin 9000 agar dapat lanjut ke tahap psikotest dan esai. Lucunya, semua teman mengira Twitter kami dibajak karena posting yang terus-terusan dan memakai format tulisan yang asing. Setelah dijelaskan itu adalah format untuk menjawab kuis, mereka lebih takjub lagi karena kami ‘niat’ sekali mengikuti kuis seperti itu dan mendoakan kami agar lolos sampai tahap akhir. Aaamin!

Belum hitungan seminggu, kami berdua berhasil mendapatkan poin lebih dari 9000, dan perjuangan kami cukupkan sampai situ karena dengan poin minimal 7000 sudah berhasil ke tahap selanjutnya yaitu psikotes dan esai. Psikotes saat itu dikirimkan pada malam hari lewat email dan harus dikirim secepatnya. Psikotes yang diberikan terhitung banyak dan dijawab dengan spontan agar mengemukakan diri kita dengan jujur. Sedangkan esai saya menceritakan tentang diri saya yang darah adrenalin yang sudah mengalir deras sejak saya masih ada di dalam kandungan ibunda. Pada saat kehamilan lima bulan, ibu saya naik roller coaster tertinggi dan tercepat di Amerika Serikat pada tahun 1991 yaitu di Orlando! Ayah saya sampai pingsan melihat kelakuan ibu saya yang aneh bin ajaib tersebut.

Seminggu kemudian, saya dan Sarida diumumkan lolos tahap psikotes dan esai, sehingga kami lanjut ke tahap wawancara. Wawancara kami dijadwalkan pada hari senin di suatu wisma di Jl. Surabaya dekat stasiun Cikini. Saya turun di Stasiun Cikini dengan Sarida di hari Senin dan diantar teman kami sampai ke wisma. Ini merupakan wawancara kedua yang pernah kulakukan, sehingga saya merasa lebih tenang dan dapat menenangkan Sarida. Kami menunggu dan mengobrol dengan peserta lainnya sekitar setengah jam, lalu kami berdua dipanggil bersamaan ke dalam satu ruangan. Di dalam ruangan, kami dipisahkan ke masing-masing pewawancara. Pewawancara saya bernama Mas Arry, dan kami berbincang sekitar 15 menit. Wawancara dengan Mas Arry cukup unik karena saya rasa itu adalah perdebatan panjang yang mengulik pribadi :’D

Dua minggu kemudian di suatu sore saat badai angin di Bogor, Mbak Sam menelepon dan mengabarkan saya bahwa Farah Hulliandini lolos seleksi dan mendapatkan tiket Across Indonesia di regional 3 tanggal 5-15 Mei 2014. Bibir tidak henti-hentinya tersenyum selama Mbak Sam berbicara dan saya langsung menyanggupi siap untuk menjadi peserta The Extreme Journey! Dengan berat hati Sarida tidak lolos menjadi peserta, tetapi dia memiliki hati yang sangat besar dan mendukung saya sepenuh hati. Akan kuingat perjuangan kita bersama di sepanjang langkah kompetisi The Extreme Journey ini! :’)

 image

Peserta sebanyak 27 orang yang mendapatkan tiket The Extreme Journey Across Indonesia! (Credit: Caldera Indonesia)

Begitulah awal mula perjalanan saya mengikuti The Extreme Journey. Kompetisi ini sangat misterius, sampai kami tidak tahu kemana kami akan pergi dan siapa teman kami. 

image

saridawardani

Something that make me want to write :3

saridawardani:

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian"

by Pramoedya Ananta Toer

Quote ini masih terekam dalam ingatan saat membaca buku Ibuk karya Iwan Setyawan. Mungkin ini yang mendasari Beliau untuk menuliskan kisah perjuangan hidup Beliau, orang tuanya, dan saudaranya.