TheExtremeJourney: Sarapan Kopi, Makan Siang Air Laut (9)

Loh? Sebenarnya saya ada di Sumbawa atau bukan yah? Sejuk banget udara pagi ini [ngulet-ngulet dalam sleeping bag]. Sebelumnya bangun super pagi menjadi senjata kami, sekarang kami tidur sepuasnya sampai dibangunkan panitia hehe :p

Sejenak kami mampir di pemukiman penduduk di desa Sebasang untuk tantangan pagi. Bang Ferdi dari tim biru sudah berbisik-bisik misterius dan menebak bahwa kami akan diberi sesuatu yang menggeliat seperti tantangan makan ulat sagu di regional Sulawesi. Syukurlah itu hanya isu belaka. Ternyata, kami ditantang untuk menyajikan minuman untuk tetua desa yaitu kopi khas Sebasang. Slurp! :9

Bukan The Extreme Journey namanya kalau yang dilakukan hanya menyeduh bubuk kopi. Disini kami harus mencari resep kopi sampai menyangrai dan menumbuknya sendiri! Dari informan ibu-ibu desa, resep kopi yang kami dapatkan adalah: segelas biji kopi, segelas beras, setengah butir kelapa, jahe, kayu manis, serta cengkeh disangrai bersamaan hingga kehitaman. Setelah berlari mencari warung dan mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan, kami segera kembali ke rumah awal untuk mengolah kopi kami.

image

image

Read More

TheExtremeJourney: Kekalahan Hanyalah Kemenangan yang Tertunda (8)

Angin sejuk ala pinggir pantai masih menyapa saya dan Bang Eko yang tidur-tidur ayam (Rikki mah pelor-pelor aje -__-). Entah mengapa capai bersepeda kemarin tak cukup kuat untuk memejamkan mata kami. Oh mungkin karena masih terlalu bersemangat sampai tubuh tak ingin diistirahatkan ;)

Pukul setengah lima subuh akhirnya tiba, dan kami pun menyiapkan sepeda beserta perlengkapannya untuk perang hari ini. Satu jam kemudian kami berpamitan ke Bu Alvin dan meluncur ke jalanan yang masih sangat gelap.

Disinilah intrik pertama tim hijau muncul. Susunan strategi kami adalah Rikki bersepeda di depan Farah untuk memilih jalan, sedangkan Bang Eko menjaga dari belakang. Tak dinyana Rikki melaju super kencang bak atlet sepeda Olympic!

image

Read More

The Extreme Journey: Dua Roda Bergoyang (7)

image

Suhu hangat Sumbawa menyapa kami sejak jam 6 pagi. Tidur malam ini terasa sangat rileks dan nyaman sekali, walaupun beralaskan lantai ruang tunggu pelabuhan Pototano. Selagi kami bersiap-siap pagi, Mr. Eelco datang ke ‘markas’ kami membawa kabar ‘gembira’, yaitu tantangan akan dimulai pukul 8 pagi dan seluruh tim diminta dipersiapkan fisik dan mentalnya untuk menghadapi tantangan yang agak berat itu.

Berhubung masih ada waktu cukup banyak, kami memesan nasi  dan telur dadar serta seplastik kecap manis untuk sarapan+ makan siang nanti. Lalu kami nongkrong di luar ruang tunggu sembari mengambil ‘kebutuhan kamera’ lagi dengan berlari-lari di antara truk-truk yang sedang mengantri masuk ke dermaga. Duuh ngartis dah diliatin bapak-bapak supir truk :’)

Akhirnya jam 9 kami diajak berjalan ke arah luar pelabuhan dan di sebuah lapangan besar, telah menunggu sembilan mountain bike beserta perlengkapannya *musik horor*

image

Read More

The Extreme Journey: Turun dari Kayangan (6)

Adzan maghrib berkumandang sehabis kami membersihkan rumah penduduk dengan kotoran sapi. Lampu-lampu desa Sade dinyalakan dan kami berkumpul di depan bale-bale besar sambil menunggu adzan magrib selesai. Suasana terasa syahdu karena kami akan meninggalkan desa Sade yang menjadi tempat bertanding pertama kami di The Extreme Journey. Berkejaran dengan waktu, pukul 18.15 kami diberikan tugas kedua di dalam amplop istimewa The Extreme Journey.

“Kami menunggu Anda turun dari kayangan paling lambat pukul 6 besok pagi. Anda tidak bisa mengikuti tantangan bila Anda terlambat menemui staf kami.”

Setelah menerima tugas, kami berpamitan dan berterima kasih kepada penduduk desa Sade yang telah menerima kami seharian ini (semoga kami bisa berkunjung lagi! :”D). Tak jauh dari luar desa Sade, kami menanyakan para penduduk letak tempat yang bernama kayangan yang ada di Lombok. Lagi-lagi jawabannya ada dua macam! Duh… :p

Read More

The Extreme Journey: Tantangan Desa Sade! (5)

Sembari menunggu tim biru dan merah sampai ke checkpoint, kami menelusuri desa Sade yang ternyata sedang mempersiapkan sebuah perayaan. Berbakul-bakul nasi dan kacang-kacangan rebus memenuhi bale-bale depan rumah adat. Usut punya usut, ternyata ini adalah persiapan upacara merayakan kelahiran seorang anak. Esok hari upacara akan dilakukan di makam leluhur penduduk desa Sade. Berkat perayaan ini, tim hijau mendapatkan empat piring nasi gratis untuk makan siang! Terima kasih Ibu! :’)

image

Ibu-ibu super baik hati dari desa Sade, Lombok! <3

Pukul 11.00 WITA kami selesai makan siang, namun tim merah dan biru tak kunjung tiba, sedangkan misi pertama dimulai jika ketiga tim bertanding (demi kebutuhan kamera hehe). Kami pun melakukan kegiatan TIBA-TIBA, yaitu tidur-bangun-tidur-bangun hahahah. Akhirnya mereka pun datang pukul 15.00! Yaaaayyyyyyyy!

Read More