samtjahajoe
samtjahajoe:

KONCO WINGKING 
Perempuan memang diciptakan memiliki hati seluas samudera dan jiwa semegah jagad raya. Pengabdi sejati. Ibu, pemilik rahim, bukan hanya ada dalam ciri fisiknya. Tapi rahim, sifatnya. Seperti seolah merepresentasikan adanya Tuhan yang begitu feminin, pemilik semua cinta dan kasih, bukan fisik Tuhan, sifatnya. 
Perempuan sepertiku. Tak perlu sangat hebat katanya. Cukup ini - itu, jadi konco wingking. Perempuan aliran kritis biasanya langsung protes. Jadi, ini soal memasrahkan segala hal pada lelaki, dan kita cukup jadi abdi yang ngurus urusan domestik rumah tangga, dan tak layak gagah seperti lelako. Konco wingking? Yang kehadirannya tak berarti, pelengkap. Properti laki-laki. Properti keluarganya sendiri. 
Perempuan sepertiku. Ya, aku melihat sendiri bagaimana perempuan-perempuan ini berdiri. Rela merusak kecantikannya sendiri demi, cinta yang ingin dia wujudkan. Melahirkan, merusak tubuh dan kecantikan. Menyusui dan mengurus anak - keluarga bikin kulit dan rambut tak terawat, dan lelah berkepanjangan. Menjadi bagian dari buruh di negeri jauh. Para TKW, yang bahkan rela jauh terbang ke entah kemana, perempuan yang bahkan keluar dari desa saja sesekali. Demi cita-cita memperbaiki kondisi, nekad menyetorkan diri pada para cukong tenaga manusia. Jika beruntung bisa ke Korea, Taiwan atau HongKong. Paling apes ke Arab Saudi, negeri tanpa hukum, negara absurd, yang seolah tak pernah terjamah peradaban. Sampai bergenerasi keturunan Ibrahim AS harua mengurusnya langsung. Dan kini, tak pernah lebih baik beribu tahun lamanya. Dia penghancur perempuan-perempuan sepertiku, dari negeriku. 
Tapi lihatlah, abdimu ini rela lakukan semua demi kehidupan yang lebih baik. Kelak menikah dengan layak, rumah berteduh yang nyaman, tabungan sawah dan kambing atau sapi. Pun dengan anak-anak yang diharapkan tak putus sekolah, jauh melampaui ibu mereka. 
Konco Wingking ini memang bukan apa-apa, ribuan, jutaan, berjuta kali lipat adanya. Didominasi jiwa pasrah, dan kesadaran akan pengabdian sebagai manusia perempuan. Manusia perempuan.
Tak peduli sekian banyak cemooh , dera dan ketidakadilan. Ketimpangan sosial terhadap posisinya. Baik di masyarakat, keluarga kecilnya, posisi strategisnya di kursi kepemimpinan. Memilih lebih banyak menelan sakit demi menjadikan banyak diantara benih-benih yang dilahirkan ke dunia tumbuh sehat, besar dan berguna. 
Perempuan seperti kami memang konco wingking, yang ‘ajar’ hidupnya untuk masa depan. Tidak sedang melebih-lebihkan. Tapi secara keselaran, kami poros kehidupan, ibu bhumi. Yang menampung segala dosa, kotoran, sampah batin dan jiwa, keonaran, perang peradaban, menampung dengan sabar, seperti Tuhan yang sabar atas kita semua. Menjadi pandu dan guru, yang memang perasaan dan nalurinya selalu lebih kuat dari apapun. 
Kata orang, perempuan selalu bicara rasa. Karena mau tak mau alam mengajari kami begitu, karena dengan rasa, dengan kebesaran jiwa, kami mendidik dan menyayangi kehidupan. Membesarkan dengan sabar anak-anak. Jika sekali saja terlampau banyak komposisi logikanya akan untung-rugi seperti kamu, kaum lelaki-yang kamu selalu bangga akan kemampuan logikamu itu- yakinlah dunia ini tak akan pernah semeriah, seindah, sesumringah ini untuk ditinggali. 
Perempuan tak kenal untung-rugi. Tak dibekali jiwa pamrih. Tak menuntut untuk dihargai karena cantik dan rupawannya, karena pada akhirnya hanya mesra dan banyak kasih sayanglah yang begitu kuat ingin senantiasa disaksikan. 
Perempuan mengantarkan setiap kecintaannya pada menang yang sejati. Hidup dan berjuang di sisi, mengatarkan dari luar, menumbuhkan keberanian dari belakang. Menopang sekuatnya jagad rayamu. Maka itulah dia disebut “konco wingking”. 
Karena apalah pengakuan dan selalu ingin tampil jadi yang terdepan, kami terlahir jadi pengusa, pengendali dan pemegang remot kontrol, kepanjangan tangan Tuhan. Tempatnya memang dibelakang, supaya gampang menggiringnya, supaya gampang kasih pandangan strateginya. 
Guru sejati hadir dan berdiri tegak dibelakang, karena ketika sang murid gentar, dan butuh perlindungan, maka wajahnya yang dicari, tangannya yang diremasi. Pemimpin di depan sana kadang terlampau waspada dan sibuk sendiri, tangan, mata dan wajahnya jauh dari jangkauan. maka hadirnya seorang konco wingking diyakini mampu memberikan keseimbangan dan kenyamanan mekanisme hidup yang begitu sempurna. Tertakar dan terukur pasti. 
Filosofi Jawa tak selamanya feodal dan memenangkan kedudukan lelaki. Banyak hal baik dalam jiwanya, memang sering kali agak menyebalkan jika sudahlah kaum patriarki yang pegang kuasa. Beda selera, beda tafsirnya. Padahal, jelas sekali alam dan segala ajaran kebijaksanaan menggambarkan keseimbangan dalam lingga dan yoni, yin dan yang. Setiap diri menngandung feminin dan maskulin. Menjadi perempuan bisa berarti, menguasai ilmu tertinggi tentang manusia, karena jiwa siapakah yang sekokoh itu siap menjadi pandu, bukan didepan, di belakang, rela dan tegas menolak pengakuan. Karena jika masih pamrih dalam pengabdian, itu rendah-rendahnya manusia. 
Terima kasih kepada kaum pria yang sudah mengajarkan ini padaku, meluruskan sejarah untuk tak merujuk bangga akan Kartini. Karena ibuk, ratu Sima, Martina Marthatiahahu, Khadijah, Aisyah dan guru-guru kita adalah konco wingking bagi semua peradaban. 
Pic via Pinterest 

Wanita…

samtjahajoe:

KONCO WINGKING

Perempuan memang diciptakan memiliki hati seluas samudera dan jiwa semegah jagad raya. Pengabdi sejati. Ibu, pemilik rahim, bukan hanya ada dalam ciri fisiknya. Tapi rahim, sifatnya. Seperti seolah merepresentasikan adanya Tuhan yang begitu feminin, pemilik semua cinta dan kasih, bukan fisik Tuhan, sifatnya.

Perempuan sepertiku. Tak perlu sangat hebat katanya. Cukup ini - itu, jadi konco wingking. Perempuan aliran kritis biasanya langsung protes. Jadi, ini soal memasrahkan segala hal pada lelaki, dan kita cukup jadi abdi yang ngurus urusan domestik rumah tangga, dan tak layak gagah seperti lelako. Konco wingking? Yang kehadirannya tak berarti, pelengkap. Properti laki-laki. Properti keluarganya sendiri.

Perempuan sepertiku. Ya, aku melihat sendiri bagaimana perempuan-perempuan ini berdiri. Rela merusak kecantikannya sendiri demi, cinta yang ingin dia wujudkan. Melahirkan, merusak tubuh dan kecantikan. Menyusui dan mengurus anak - keluarga bikin kulit dan rambut tak terawat, dan lelah berkepanjangan. Menjadi bagian dari buruh di negeri jauh. Para TKW, yang bahkan rela jauh terbang ke entah kemana, perempuan yang bahkan keluar dari desa saja sesekali. Demi cita-cita memperbaiki kondisi, nekad menyetorkan diri pada para cukong tenaga manusia. Jika beruntung bisa ke Korea, Taiwan atau HongKong. Paling apes ke Arab Saudi, negeri tanpa hukum, negara absurd, yang seolah tak pernah terjamah peradaban. Sampai bergenerasi keturunan Ibrahim AS harua mengurusnya langsung. Dan kini, tak pernah lebih baik beribu tahun lamanya. Dia penghancur perempuan-perempuan sepertiku, dari negeriku.
Tapi lihatlah, abdimu ini rela lakukan semua demi kehidupan yang lebih baik. Kelak menikah dengan layak, rumah berteduh yang nyaman, tabungan sawah dan kambing atau sapi. Pun dengan anak-anak yang diharapkan tak putus sekolah, jauh melampaui ibu mereka.
Konco Wingking ini memang bukan apa-apa, ribuan, jutaan, berjuta kali lipat adanya. Didominasi jiwa pasrah, dan kesadaran akan pengabdian sebagai manusia perempuan. Manusia perempuan.
Tak peduli sekian banyak cemooh , dera dan ketidakadilan. Ketimpangan sosial terhadap posisinya. Baik di masyarakat, keluarga kecilnya, posisi strategisnya di kursi kepemimpinan. Memilih lebih banyak menelan sakit demi menjadikan banyak diantara benih-benih yang dilahirkan ke dunia tumbuh sehat, besar dan berguna.

Perempuan seperti kami memang konco wingking, yang ‘ajar’ hidupnya untuk masa depan. Tidak sedang melebih-lebihkan. Tapi secara keselaran, kami poros kehidupan, ibu bhumi. Yang menampung segala dosa, kotoran, sampah batin dan jiwa, keonaran, perang peradaban, menampung dengan sabar, seperti Tuhan yang sabar atas kita semua. Menjadi pandu dan guru, yang memang perasaan dan nalurinya selalu lebih kuat dari apapun.
Kata orang, perempuan selalu bicara rasa. Karena mau tak mau alam mengajari kami begitu, karena dengan rasa, dengan kebesaran jiwa, kami mendidik dan menyayangi kehidupan. Membesarkan dengan sabar anak-anak. Jika sekali saja terlampau banyak komposisi logikanya akan untung-rugi seperti kamu, kaum lelaki-yang kamu selalu bangga akan kemampuan logikamu itu- yakinlah dunia ini tak akan pernah semeriah, seindah, sesumringah ini untuk ditinggali.
Perempuan tak kenal untung-rugi. Tak dibekali jiwa pamrih. Tak menuntut untuk dihargai karena cantik dan rupawannya, karena pada akhirnya hanya mesra dan banyak kasih sayanglah yang begitu kuat ingin senantiasa disaksikan.

Perempuan mengantarkan setiap kecintaannya pada menang yang sejati. Hidup dan berjuang di sisi, mengatarkan dari luar, menumbuhkan keberanian dari belakang. Menopang sekuatnya jagad rayamu. Maka itulah dia disebut “konco wingking”.
Karena apalah pengakuan dan selalu ingin tampil jadi yang terdepan, kami terlahir jadi pengusa, pengendali dan pemegang remot kontrol, kepanjangan tangan Tuhan. Tempatnya memang dibelakang, supaya gampang menggiringnya, supaya gampang kasih pandangan strateginya.

Guru sejati hadir dan berdiri tegak dibelakang, karena ketika sang murid gentar, dan butuh perlindungan, maka wajahnya yang dicari, tangannya yang diremasi. Pemimpin di depan sana kadang terlampau waspada dan sibuk sendiri, tangan, mata dan wajahnya jauh dari jangkauan. maka hadirnya seorang konco wingking diyakini mampu memberikan keseimbangan dan kenyamanan mekanisme hidup yang begitu sempurna. Tertakar dan terukur pasti.

Filosofi Jawa tak selamanya feodal dan memenangkan kedudukan lelaki. Banyak hal baik dalam jiwanya, memang sering kali agak menyebalkan jika sudahlah kaum patriarki yang pegang kuasa. Beda selera, beda tafsirnya. Padahal, jelas sekali alam dan segala ajaran kebijaksanaan menggambarkan keseimbangan dalam lingga dan yoni, yin dan yang. Setiap diri menngandung feminin dan maskulin. Menjadi perempuan bisa berarti, menguasai ilmu tertinggi tentang manusia, karena jiwa siapakah yang sekokoh itu siap menjadi pandu, bukan didepan, di belakang, rela dan tegas menolak pengakuan. Karena jika masih pamrih dalam pengabdian, itu rendah-rendahnya manusia.

Terima kasih kepada kaum pria yang sudah mengajarkan ini padaku, meluruskan sejarah untuk tak merujuk bangga akan Kartini. Karena ibuk, ratu Sima, Martina Marthatiahahu, Khadijah, Aisyah dan guru-guru kita adalah konco wingking bagi semua peradaban.

Pic via Pinterest

Wanita…

TheExtremeJourney: Sarapan Kopi, Makan Malam Laut

Loh? Sebenarnya saya ada di Sumbawa atau bukan yah? Sejuk banget udara pagi ini [ngulet-ngulet dalam sleeping bag]. Sebelumnya bangun super pagi menjadi senjata kami, sekarang kami tidur sepuasnya sampai dibangunkan panitia hehe :p

Sejenak kami mampir di pemukiman penduduk di desa Sebasang untuk sarapan pagi. Bang Ferdi dari tim biru sudah berbisik-bisik misterius dan menebak bahwa kami akan diberi tantangan makan seperti tantangan makan ulat sagu di regional Sulawesi. Syukurlah itu hanya isu belaka. Ternyata, kami ditantang untuk menyajikan minuman untuk tetua desa yaitu kopi khas Sebasang. Slurp! :9

Bukan The Extreme Journey namanya kalau yang dilakukan hanya menyeduh bubuk kopi. Disini kami harus mencari resep kopi sampai menyangrai dan menumbuknya sendiri! Dari informan ibu-ibu desa, resep kopi yang kami dapatkan adalah: segelas biji kopi, segelas beras, setengah butir kelapa, jahe, kayu manis, serta cengkeh disangrai bersamaan hingga kehitaman. Setelah berlari mencari warung dan mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan, kami segera kembali ke rumah awal untuk mengolah kopi kami.

Menyangrai kopi di desa tentu saja menggunakan api tradisional, yaitu kayu dan ranting pohon. Setelah meniup dengan sepenuh napas menggunakan selongsong bambu, api tim kami menyala dengan mantapnya! Wajan berisikan campuran resep kopi langsung kami tempatkan di atas api. Setengah jam lamanya kami menyangrai kopi di antara asap pedih yang dihasilkan penggorengan, sambil terus mengecek kadar kehitaman yang seharusnya dicapai kepada ibu-ibu yang menonton kami bekerja. Tiba-tiba saja aroma kopi menyeruak dari sangraian kopi kami yang berwarna hitam legam, sehingga campuran kami pindahkan ke alu untuk ditumbuk. Menumbuk kopi memerlukan gerakan memutar agar bubuk yang dihasilkan lebih halus. Setelah tumbukan kasar dirasa cukup, ayakan langsung dikeluarkan untuk memperoleh bubuk kopi yang lebih halus. Naaah, mengayak bubuk kopi ada rahasianya juga nih. Ayakan pertama menghasilkan kopi yang kuat sekali aroma dan rasa rempahnya, sedangkan ayakan ketiga akan mengeluarkan citarasa kopi yang dicari-cari. Jadi, kami menyajikan kopi dari ayakan ketiga karena itulah hasil yang terbaik. Sekarang menuju babak penjurian! Rikki, Bang Alid, dan Majid menjadi perwakilan masing-masing tim untuk meracik kopi. Satu sendok bubuk kopi dan satu sendok gula pasir diseduh dengan 150 mL air panas. Masih mengebul kopi sajian kami, tetapi juri sudah meneguknya saja! Daaaaannnnn tim merahlah yang menjadi kopi favorit juri prok prok prok :D

Beres sarapan kopi, kami ditantang menuju titik berikutnya. Kali ini kami ‘dibuang’ di titik tempat saya ‘meledak’ kemarin melihat papan petunjuk “BATU TERING 15 KM”. Oh iya, disana kami bertemu dengan seorang bapak petani yang ternyata adalah orang Jakarta. Beliau bosan dengan perkantoran dan memilih untuk menghabiskan masa tuanya di Sumbawa. Waaaahhhh bikin iri aja si Bapak :’)

Misi selanjutnya adalah: “Temui Pak Alex di muara kali Sumbawa. Waktu tim Anda hanya sampai pukul 1 siang”.

Muara kali? Hmmm tidak ada tempat bernama Muara Kali di Sumbawa. Berarti, ini perumpamaan laut, dan kami harus menuju pelabuhan terdekat. Waktu menunjukkan pukul 12 siang, dan kami hanya punya persis satu jam untuk mencapai pelabuhan! Disana terhitung jarang angkutan yang lewat, sehingga keberuntunganlah yang bermain saat itu.

Tim biru langsung mendapatkan mobil tumpangan untuk keluar dari desa. Tim merah menyewa ojek untuk mencapai check point? Lima menit kemudian, im hijau naik angkot yang kebetulan lewat depan mata.

Dari segi waktu start, kami tertinggal 10 menit dari tim yang lain. Perjalanan terasa sangat panjang dan lama karena jalan terasa tiada habisnya. Untuk menenangkan diri, kami menikmati perjalanan dengan mengobrol bersama supir angkot dan menceritakan tujuan akhir kami. Pasar di kota adalah pemberhentian terakhir, lalu kami harus melanjutkan perjalanan dengan sewa ojek.

Untungnya, Pak Supir kenal dengan tukang ojek yang mengenal baik daerah kota dan pelabuhan. Segera Pak Supir menelepon temannya untuk menyiapkan empat motor untuk kami. Uwaaaah! :’)

Trayek angkot di Sumbawa sangat lucu. Mungkin karena kenal dekat dengan warganya, Pak Supir pun tak segan untuk menunggu seorang ibu mengantarkan makanan ke tetangga jauhnya, ataupun menimbang muatan beras dahulu. Hahahah jantung tambah kebat-kebit karena waktu kami habis karena acara dadakan seperti itu hiksss.

Sesampai di pasar, kami lang

TheExtremeJourney: Kekalahan Hanyalah Kemenangan yang Tertunda (8)

Angin sejuk ala pinggir pantai masih menyapa saya dan Bang Eko yang tidur-tidur ayam (Rikki mah pelor-pelor aje -__-). Entah mengapa capai bersepeda kemarin tak cukup kuat untuk memejamkan mata kami. Oh mungkin karena masih terlalu bersemangat sampai tubuh tak ingin diistirahatkan ;)

Pukul setengah lima subuh akhirnya tiba, dan kami pun menyiapkan sepeda beserta perlengkapannya untuk perang hari ini. Satu jam kemudian kami berpamitan ke Bu Alvin dan meluncur ke jalanan yang masih sangat gelap.

Disinilah intrik pertama tim hijau muncul. Susunan strategi kami adalah Rikki bersepeda di depan Farah untuk memilih jalan, sedangkan Bang Eko menjaga dari belakang. Tak dinyana Rikki melaju super kencang bak atlet sepeda Olympic!

Waduh! Tim X9 ditinggal salah satu anggotanya dan mengakibatkan menjauh sebesar satu jam jaraknya. Sepanjang perjalanan saya dan Bang Eko tak habis pikir. Bahkan Bang Ibe sang kameramen berusaha menghentikan Rikki, namun Rikki tetap melaju di depan terpisah dengan kami. Jadilah kami berdua bersepeda menikmati panasnya Sumbawa yang kejam dengan hati yang dongkol :p

Sekitar empat jam bersepeda, sampailah kami di kota Sumbawa Besar. Alhamdulillah! :”””) Sembari menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, diberitakan bahwa target waktu checkpoint yang tadinya pukul 12 siang diubah menjadi pukul 2 siang. Wah, feeling berubah jadi tidak enak. Mengapa waktu harus diundur? Mengapa??

Jawabannya: suhu di Sumbawa mencapai lebih dari 40 derajat celcius, serta tanjakan yang tambah tidak manusiawi. Oh iya, tidak lupa debu-debu jalanan dan truk super kencang yang menemani di setiap kayuhan sepeda :’(

Tak kuat menghadapi tanjakan panjang dan panas, saya meminta pun break kepada Bang Eko. Eeeh keenakan ada teduh pohon saya malah ketiduran. Panitia yang menunggu di akhir tanjakan tersebut pun penasaran dan turun menghampiri kami. Hahahah maaf ya ndro :p Kadung terbangun, akhirnya kami langsung melanjutkan perjalanan dan saya menuntun sepeda dengan tangan. Heehee :$

Proses pencarian jalan menuju Batu Tering pada titik ini dirasa lebih rumit karena memasuki pemukiman warga, sehingga banyak percabangan jalan. Waktu kami pun cukup tersita untuk bertanya arah jalan pada warga sekitar. Setelah nyaris tersasar di pertigaan, kami pun akhirnya tiba di jalur yang benar.

Selagi menarik napas sebentar, saya menoleh ke kanan dan melihat sebuah papan bertulisan “BATU TERING, 15 KM”. Sontak saya melotot dan tanpa sadar membanting sepeda saya sambil berteriak “Lima belas kilo lagi? Hah!” Rasa panik langsung memuncak, terlebih lagi kami ada posisi paling akhir dalam tantangan bersepeda ini. Masih satu jam lagi yang tersisa, dan berharap medan yang ditempuh adalah turunan sehingga 15 km terlampaui dengan mudah.

Ternyata itu hanya harapan belaka. Jalanan berbatu dan tanjakan menyambut kami dengan segala kemegahannya. Dengan pikiran yang kosong dan panik, saya memaksakan bersepeda dan tergelincir di jalan turunan yang berbatu. Bang Eko langsung menghentikan saya dan berucap untuk menyudahi saja karena waktu yang tersisa tinggal enam menit lagi. Pecahlah tangis saya karena saya merasa sangat tidak enak kepada Bang Eko yang sudah mengajari dan mengawasi saya bersepeda selama dua hari. Total rute bersepeda 110 km dan tersisa hanya 12 km itu rasanya… PERIH! :’(

Dalam mobil evakuasi saya berusaha menenangkan diri, tapi tetap dibuat mewek oleh Bang Asep. Disitulah saya sangat bersyukur saya dikelompokkan dengan Bang Eko. Tidak terbayang bila saya dipindahkan ke regional lain atau di-tim-kan bukan dengan dia (cailah).

Sesampainya di Batu Tering, kami menyegerakan makan siang dengan nasi dan ikan bakar yang kami beli di Sumbawa Besar. Setelah istirahat kilat, tantangan The Extreme Journey berlanjut yaitu mengumpulkan bendera di sepanjang sungai Batu Tering. Rute tantangan ini meliputi cliff jump, berenang, serta traversing. Otot-otot lumayan kejang karena badan yang belum mendingin setelah bersepeda panjang diterpa dengan air sungai yang cukup sejuk. Tapi tetap bergembira bersama tim biru dan merah uhuuuuyyyy.

Bosan bermain air, kami semua kembali ke basecamp untuk berganti baju karena udara dingin malam mulai menyerang (Bang Alid lama banget mandinya! -_-). Lalu saya, Mbak Winny, dan Bang Alid ditugaskan untuk membeli makan malam bersama Bang Mamat di kota yang berjarak dua jam perjalanan PP dari basecamp. Teh manis hangat menjadi jamuan dan penutup manis setelah tantangan super panjang dan melelahkan. Esok hari kami bertekad akan melibas semuanya! Huhhah!

The Extreme Journey: Dua Roda Bergoyang (7)

Suhu hangat Sumbawa menyapa kami sejak jam 6 pagi. Tidur malam ini terasa sangat rileks dan nyaman sekali, walaupun beralaskan lantai ruang tunggu pelabuhan Pototano. Selagi kami bersiap-siap pagi, Mr. Eelco datang ke ‘markas’ kami membawa kabar ‘gembira’, yaitu tantangan akan dimulai pukul 8 pagi dan seluruh tim diminta dipersiapkan fisik dan mentalnya untuk menghadapi tantangan yang agak berat itu.

Berhubung masih ada waktu cukup banyak, kami memesan nasi  dan telur dadar serta seplastik kecap manis untuk sarapan+ makan siang nanti. Lalu kami nongkrong di luar ruang tunggu sembari mengambil ‘kebutuhan kamera’ lagi dengan berlari-lari di antara truk-truk yang sedang mengantri masuk ke dermaga. Duuh ngartis dah diliatin bapak-bapak supir truk :’)

Akhirnya jam 9 kami diajak berjalan ke arah luar pelabuhan dan di sebuah lapangan besar, telah menunggu sembilan mountain bike beserta perlengkapannya *musik horor*

image

Sepeda: Alat “Penyiksa” Regional 3 #TheExtremeJourney :p (Credit: Caldera Indonesia)

Sebelum kami mendekat ke sepeda masing-masing, Mr. Eelco memberikan briefing singkat berdurasi setengah jam mengenai perangkat sepeda dan cara penanganan kondisi darurat. Apa saja yang mungkin terjadi selama perjalanan bersepeda touring? Buka saja http://b2w-indonesia.or.id/bacanote/5_hal_buruk_ketika_gowes_offroad. Setelah briefing, kami mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa selama bersepeda karena carrier dan daypack akan dibawa oleh mobil panitia.

image

Satu-satunya foto lengkap personil tim hijau dengan di tantangan sepeda ini! (Credit: Caldera Indonesia)

Camera! Ready! Action! Dan amplop merah The Extreme Journey kembali dibagikan.

“Kami menunggu Anda sampai di Batu Tering jam 12 siang esok hari. Poin bonus ada di desa Bungin. Tim Anda hanya diperbolehkan bersepeda hingga jam 6 sore, dan menginaplah di rumah warga sekitar.”

image

START! (Credit: Caldera Indonesia)

Aba-aba mulai diberikan oleh Bang Arry, dan semua peserta meluncur kencang di atas jalan bebatuan, meninggalkan saya sendirian yang tertatih menaiki sepeda. Bang Eko menoleh ke belakang dan bingung melihat saya malah menuntun sepeda. Oke. Sekarang saya mengaku bahwa saya tidak bisa naik sepeda dengan lancar. Maafkan saya tim hijau! :’(

image

Ini saya yang waktu itu harus dibantuin Bang Eko (setiap kali) start bersepeda (Credit: Caldera Indonesia)

Dengan bantuan Bang Eko dan Bang Ferdi dari tim biru, saya akhirnya bisa duduk di atas dua roda tersebut  dan meluncur perlahan di tepian jalan. Kesulitan saya yang lainnya saat itu adalah kaki saya yang tidak sampai ke tanah dan jarak stang yang terlalu jauh untuk tangan saya.  Setengah jam kemudian, panitia memberikan peralatan untuk menurunkan stang dan dudukan sepeda agar saya bisa bersepeda lebih nyaman. Alhamdulillah :”’)

Jalan yang mulus selayaknya jalan raya kami tempuh sekitar tiga jam. Memasuki daerah desa Bungin, jalanan tidak ada halus-halusnya sama sekali. Saking capeknya jatuh bangun luka sana sini, saya tuntun saja sepeda itu hingga gerbang masuk desa Bungin :’(

Matahari tepat di atas kepala ketika kami sampai di desa Bungin. Kondisi jalan yang berbatu dan panas yang menyengat membuat kepala berdenyut dan mata berbayang. Di desa Bungin inilah kami harus menuntaskan tugas bonus yang sangat super. Apa sih tugas bonusnya?

“Berfotolah bersama kambing yang sedang makan kertas.”

….. (menghela napas) …..

Di tengah panas yang terik tersebut kami mencari-cari kambing yang mau makan sobekan kertas dari kami. Kami berjalan semakin jauh ke dalam desa dan berharap menemukan kambing yang masih lapar. Uang sebesar dua ribu rupiah pun kami gunakan nyaris putus asanya kami. Akhirnya, di bawah sebuah kapal yang sedang dibangun, seekor ibu kambing memakan selembar uang dua ribu yang kami suapkan! Yippieeeeee!

image

Ibu kambing makan kertas :’)

image

Pose Dewi Durga yang anti-mainstream (karena Bang Eko yang kita pasang jadi face-nya Dewi Durga tim hijau hehe)

Sehabis makan siang dengan bekal nasi telur yang kami bawa di desa Bungin, kami sekarang bersepeda menuju Batu Tering! Matahari semakin ramah mendekati sore di pulau Sumbawa membuat saya semakin bersemangat! Hahahah. Sayangnya Rikki semakin lelah karena setting roda depannya yang terlalu kencang sehingga berat untuk dikayuh dari pagi (dan dia baru bilang sorenya!).

image

Tim hijau ngaso sore-sore di tengah hutan (Credit: Bang Anton)

Melewati hutan di kiri dan kanan kami, hari semakin gelap dan kami masih belum menemukan rumah penduduk yang bisa kami tumpangi. Sampai pukul 18.30 kami bersepeda mengandalkan penerangan dari lampu mobil dan truk yang mendahului kami. Setelah keluar dari hutan dan pedesaan penduduk hindu, kami menemukan sebuah warung!

Warung di desa Meno tersebut milik Pak Alvin dan istrinya. Pak Alvin adalah seorang nelayan yang bermigrasi dari pulau Sumatera. Setelah berbasa-basi, kami diizinkan untuk menginap di teras rumah beliau. Untuk makan malam, kami disuguhi ikan hasil tangkapan beliau serta membeli nasi dan mie rebus, serta membayar dengan harga yang sangat murah. Terharuuuu, kenyaaang dan senaaaang!

image

Di teras rumah Pak Alvin beserta Ibu di Desa Meno, Sumbawa :)

Pas setelah makan malam, panitia datang membawakan tools sepeda dan memberitahukan bahwa peserta boleh mulai lagi esok hari jam 05.30. Sebelum tidur, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Pak Alvin dan ibu yang telah menerima kami di rumah desa Meno. Semoga keluarga Bapak diberikan kelancaran rezeki oleh Tuhan YME. Aaaamiiin :’)

P. S. Klik hestek #theextremejourney di bawah ini untuk membaca seluruh cerita kami tanpa adegan cut! :D

The Extreme Journey: Turun dari Kayangan (6)

Adzan maghrib berkumandang sehabis kami membersihkan rumah penduduk dengan kotoran sapi. Lampu-lampu desa Sade dinyalakan dan kami berkumpul di depan bale-bale besar sambil menunggu adzan magrib selesai. Suasana terasa syahdu karena kami akan meninggalkan desa Sade yang menjadi tempat bertanding pertama kami di The Extreme Journey. Berkejaran dengan waktu, pukul 18.15 kami diberikan tugas kedua di dalam amplop istimewa The Extreme Journey.

“Kami menunggu Anda turun dari kayangan paling lambat pukul 6 besok pagi. Anda tidak bisa mengikuti tantangan bila Anda terlambat menemui staf kami.”

Setelah menerima tugas, kami berpamitan dan berterima kasih kepada penduduk desa Sade yang telah menerima kami seharian ini (semoga kami bisa berkunjung lagi! :”D). Tak jauh dari luar desa Sade, kami menanyakan para penduduk letak tempat yang bernama kayangan yang ada di Lombok. Lagi-lagi jawabannya ada dua macam! Duh… :p

‘Kayangan’ yang pertama ada di sebelah timur desa Sade, terletak di perbukitan dan digunakan untuk upacara pemotongan rambut anak-anak. Sedangkan ‘kayangan’ yang satu lagi merupakan nama pelabuhan yang membawa penumpang ke Sumbawa. Secara logika, jelas tidak mungkin kami ke kayangan yang di timur karena tidak ada kendaraan sama sekali ke arah sana dan rute menjadi mundur ke belakang. Karena itu, kami memilih ke pelabuhan Kayangan yang rutenya masih dirasa oke. Hehe.

Let’s go! Sebelum ke Kayangan, kita harus lewat Mataram sekalian ambil poin bonus foto nih. Tapi, naik apa kita kesana? Jika hari gelap ternyata jarang sekali kendaraan pribadi yang lewat, apalagi angkot. Bersama tim biru, kami berjalan sekitar 2 km dan berhasil menghentikan sebuah truk pick-up berisi panen buah nangka. Harumnyaaa! :3

image

Begajulan di atas pick-up nangka bareng tim biru :D

Tak terasa 15 menit kemudian, kami diturunkan di pertigaan Sengkol untuk melanjutkan perjalanan ke arah Mataram. Setengah jam kami menunggu tetapi tidak ada kendaraan yang mau berhenti untuk kami tumpangi. Tim merah pun lewat menumpang mobil pick up yang melaju kencang sambil melambaikan tangan dengan gembira. Huh! Hahahah :P

Tiba-tiba sebuah mobil Avanza berhenti saat saya dan Mbak Winny mengacungkan jempol tanda ingin menumpang. Kami hampiri mobil dan ternyata sang Bapak bersedia mengantar jika dibayar IDR 350.000 dengan rute Sengkol- Mataram- Pelabuhan Kayangan. Demi mengejar waktu, kami deal saja dan langsung meluncur ke Mataram.

image

Tim hijau di depan Pura Meru, Mataram :D

(untung ada kameranya Bang Ferdi, kalau ga fotonya nanti gelap mutlak hehe)

Setelah mengambil poin foto bonus di Pura Meru dan kembali ke mobil, kami melihat tim merah di seberang jalan sana sedang mencari-cari Pura Meru! Dengan panik kami langsung masuk mobil agar tidak berpapasan dan buru-buru pergi ke pelabuhan Kayangan. Hahahah maafkan kami tim merah :’)

Gerbang pelabuhan Kayangan berbeda sekali dengan Padang Bai. Pelabuhan Kayangan terlihat rapi dengan lampu-lampu terang di sisi jalannya, persis seperti gerbang masuk bandara pesawat. Disana kami membeli tiket dan nasi bungkus (dua porsi untuk bertiga hehe) dan langsung naik ke ferry agar bisa cepat istirahat setelah turun dari Kayangan.

Perjalanan dua jam ditempuh dan sampailah kami di pelabuhan Pototano, Sumbawa. Demi mendapatkan skor pertama, kedua tim berlari dan bertemu dengan panitia Caldera. Tapi sayang, tim hijau menjadi yang kedua karena tim biru menyerahkan score card lebih awal daripada kami. Tak apa! :D

image

Menjelang dekil maksimal di pelabuhan Pototano, Sumbawa :P

Lelah segera menyapa dan kami mendapatkan tempat untuk ‘ngampar’ di sebelah ruang tunggu pelabuhan. Tebar sleeping bag berjajar dan segera tidur karena hari esok menanti! ;)

P.S. Klik #theextremejourney di bawah ini untuk lihat compile cerita kami ;)